September 17, 2018 By:
Baru-baru ini Glassdoor Economic Research menerbitkan hasil penelitian di Amerika Serikat tentang perbandingan gaji pokok antara pekerjaan teknologi dan non-teknologi. Tim peneliti mengumpulkan sampel perusahaan teknologi dengan paling sedikit 100 lowongan pekerjaan di Glassdoor pada 26 Juni 2018. Glassdoor mendefinisikan peran teknologi sebagai posisi yang membutuhkan pengetahuan tentang coding, software atau data. Studi ini menemukan yang berikut ini menjadi 10 pekerjaan teknologi dengan bayaran tertinggi hari ini: Terlihat bahwa Software Engineering Manager adalah pekerjaan dengan rata-rata gaji tertinggi dari posisi yang diiklankan. Diikuti oleh Data Warehouse Architect, Software Development Manager, Infrastructure Architect dan Application Architect. Dari perusahaan teknologi, Walmart eCommerce, Microsoft, Intel, Amazon, dan Google memiliki konsentrasi pekerjaan teknologi tertinggi sebagai persentase dari semua posisi. Sementara itu Workday, Salesforce, Verizon, dan IBM memiliki konsentrasi posisi non-teknologi terbanyak saat ini. Sumber: Forbes, Glassdoor

September 16, 2018 By:
Berikut adalah 5 teknologi masa depan yang sudah mulai digunakan dan akan menjadi umum dalam waktu dekat: 1. Internet of Things (IoT) Internet of Things telah lama dibicarakan sebagai inovasi besar berikutnya dalam kehidupan sehari-hari dengan adopsi sistem yang terus berkembang seperti Google Home dan Amazon's Alexa. Perangkat ini akan terus mengintegrasikan lebih banyak aspek rumah ke dalam satu sistem yang harmonis dengan memanfaatkan internet, memungkinkan pengguna untuk mengontrol apa pun mulai dari AC hingga sistem sekuriti melalui perintah suara. Apple telah mengumumkan rencananya untuk meluncurkan HomePod tahun ini dan Samsung dilaporkan bekerja pada teknologi Bixby untuk bersaing dengan kesuksesan sistem Google dan Amazon. Bisa diharapkan bahwa salah satu perangkat ini akan menyederhanakan kehidupan di rumah dan sekitarnya pada tahun 2020 2. Automation Inovasi skala besar dalam otomasi akan memiliki implikasi yang jauh menjangkau konsumen pada tahun 2020. Gerai Amazon, yang menghilangkan kebutuhan akan kasir, telah terbukti berhasil sebagai alternatif yang efisien untuk pembeli di lokasi pertamanya. Ketika teknologi terus berkembang, konsumen dapat mengharapkan bahwa penggunaan sensor tekanan dan kamera yang mengotomatisasi pembayaran serta mengurangi antrian akan merambah di toko-toko sekitar anda. 3. Cryptocurrency Setelah lompatan harga meteorik Bitcoin di tahun 2017, para pemain teknologi utama telah mulai mengambil cryptocurrency dengan serius. Bersamaan dengan ICO (Initial Coin Offering) yang telah mencapai outlet berita utama seperti Ethereum, perusahaan yang lebih kecil sedang mengembangkan Stablecoin yang menyediakan upaya untuk menyediakan semua pro transaksi cryptocurrency tanpa fluktuasi harga yang telah mengganggu sistem. Jika keseimbangan dapat tercipta, crypto currency akan menjadi metode pembayaran umum pada tahun 2020. 4. Blockchain Blockchain atau decentralized ledger yang awalnya dibuat until menunjang cryptocurrency, memiliki fungsi aplikasi yang lebih luas daripada sekedar transaksi keuangan. Teknologi block-chain dapat diterapkan ke setiap transaksi multi-langkah di mana traceability dan visibility diperlukan. Rantai suplai adalah kasus penggunaan yang penting di mana Blockchain juga dapat dimanfaatkan untuk platform voting, manajemen sertifikat dan asset. Penggunaan blockchain akan terus berkembang di masa datang. 5. Artificial Intelligence (AI) Artificial Intelligence yang dulu mungkin seperti sesuatu dari novel Sci-Fi, saat ini sedang terus berkembang. Dengan munculnya Internet of Things, Teknologi Informasi dan Perusahaan Cybersecurity telah mulai mengadopsi artificial neural network untuk memantau dan mencegah serangan DDoS. Selain untuk aplikasi security, perusahaan seperti Amazon dan Google telah mulai menerapkan teknologi ini kepada konsumen umum untuk menyederhanakan berbelanja dan pencarian di platform. Dengan semua kemajuan teknologi AI saat ini, masuk akal bahwa pada tahun 2020 inovasi akan semakin berkembang baik dalam kegiatan bisnis dan konsumen. Sumber: business2community, Deloitte

July 15, 2018 By:
BAHASA PEMROGRAMAN UNGGULAN 2018 Seiring dengan perkembangan jaman, bahasa pemrograman juga ikut bertambah. Semakin banyak bahasa programming yang menarik untuk dipelajari, tapi sayangnya waktu sering terbatas. Karenanya penting untuk memilih bahasa programming apa yang sekiranya dapat membantu karir selanjutnya. Berikut ini adalah 7 bahasa programming unggulan untuk 2018: TypeScript Suka atau tidak suka, JavaScript tetap akan dipakai. TypeScript bertujuan untuk mengatasi masalah utama dari JavaScript yaitu dengan memperkenalkan static typing. Artinya tipe variabel juga perlu dirinci ketika developer melakukan coding. Contohnya: const sayHello = (name: string) = `Hello, ${name}` TypeScript masuk dalam Top 5 bahasa yang paling disuka dan popularitasnya semakin naik sejak diperkenalkan 5 tahun lalu. Baik perusahaan teknologi besar maupun start-up telah memanfaatkan kelebihannya. Di tahun 2018 ini Typescript akan terus popular. Bagi pecinta JavaScript yang tetap ingin up-to-date, TypeScript adalah pilihan yang tepat untuk dipelajari. Go Go juga mulai mengambil tempat di dunia programming. Bahasa ini dibuat oleh Google di tahun 2009 and memberikan banyak manfaat dari C/C++. Go juga sudah membuat banyak perubahan untuk membuatnya lebih sederhana dan aman. Koding dalam Go sangat mudah dimengerti dan juga efisien secara komputasi. Developer baru dapat dengan cepat menguasainya. Go dapat dipilih untuk berbagai kegunaan. Kecepatannya membuat Go menjadi pilihan yang baik untuk web servers. Go juga cukup simple untuk micro services dan juga systems. Go banyak dipakai untuk web servers perusahaan tech besar dan juga merupakan bahasa utama untuk Ethereum source code dan Hyperledger blockchain. Banyaknya kegunaan Go menjadikan bahasa ini penting untuk dikuasai karena akan membantu dalam pekerjaan developer. Python Walau sudah berusia lebih dari 30 tahun, bahasa ini tetap popular bagi software engineer. Python telah tahan uji dalam waktu karenanya bahasa ini penting diketahui karena pemakaiannya di mana-mana. Survei Stack Overflow 2018 menunjukkan bahwa Python adalah peringkat # 1 sebagai bahasa pemrograman yang paling dicari. Python merupakan bahasa scripting yang indah dan telah banyak berevolusi untuk mendukung ekosistem developer. Bahasa ini menawarkan Django dan Flask, membuatnya mudah untuk membangun aplikasi web dan API. Python telah membuktikan ketangguhannya dalam kurun waktu tiga dekade. Karenanya investasi waktu untuk mendalami Python akan membuahkan hasil yang sepadan. Kotlin + Swift Bahasa-bahasa ini secara universal merupakan perbaikan bagi para pendahulu mereka. Keduanya memberikan kemudahan bagi developer dalam melakukan coding mobile apps di platform mereka masing-masing. Kotlin menduduki peringkat kedua sebagai bahasa pemrograman yang paling disuka dan tahun lalu menerima dukungan resmi dari Google dan Android Studio. Banyak tim Android mengubah basis kode mereka dari Java. Jangan takut untuk mempelajari bahasa ini karena tampaknya Kotlin akan sangat diminati di masa mendatang. Swift dikembangkan oleh Apple sehingga insinyur iOS tidak perlu lagi bekerja dengan Objective-C. Bahasa ini hanya berusia 4 tahun tetapi telah menerima adopsi yang cepat. Swift 4.0 dirilis pada tahun 2017 dan popularitasnya tidak menunjukkan tanda-tanda menurun karena para insinyur terus mengadopsinya. SQL Meskipun tidak sama dengan bahasa lain di daftar kami (dan beberapa mungkin berpendapat bahwa SQL mestinya tidak masuk dalam list ini), pemahaman SQL sangat penting. Hampir setiap perusahaan teknologi akan memiliki data storage, dan sejauh ini metode yang paling populer adalah implementasi SQL. Memahami penyimpanan dan pengambilan data amat penting bagi software developer. Bagi insinyur front end yang tidak pernah melihat dari mana data berasal, cobalah pelajari SQL. Rust Rust adalah bahasa pemrograman sistem yang disponsori oleh Mozilla. Walaupun penggunaannya lebih terbatas dari bahasa lain, tetapi untuk system coding Rust cukup bermanfaat. Rust terpilih sebagai bahasa yang paling disuka dalam survei Stack Overflow 3 tahun berturut-turut pada tahun 2016, 2017, dan 2018. Karena itu tidak ada salahnya untuk mencoba mempelajari bahasa ini. Elixir Walau terbilang baru, Elixir saat ini memiliki pengikut yang setia. Bahasa ini juga mulai digunakan oleh banyak startup terkenal. Popularitas pemrograman fungsional berkembang dengan cepat dan Elixir adalah bahasa pemrograman fungsional yang berfungsi general dan bekerja pada mesin virtual Erlang (BEAM). Selain sering dipakai oleh para software engineer, Elixir telah terbukti dapat mendukung sistem besar yang berkinerja baik di bawah beban pengguna yang sangat besar. Aplikasi chat populer Discord menulis artikel tentang bagaimana mereka mencapai 5.000.000 pengguna secara bersamaan dengan puluhan ribu dalam satu channel dengan memakai Elixir. Sebagai perbandingan, Slack dapat menangani sekitar 10.000 pengguna bersamaan dalam chat. Kecintaan pada Elixir telah menciptakan kultus yang kuat, dan karenanya bahasa ini sangat mungkin untuk menjadi bahasa besar berikutnya. Kesimpulan Keterbatasan waktu mungkin menjadi hambatan untuk dapat menguasai banyak bahasa. Tetapi bahasa dalam list di atas dipastikan dapat membantu dalam pekerjaan dan memberikan peluang lebih besar di masa depan. Yuk belajar! Sumber: Level Up

July 10, 2018 By:
Perusahaan start-up berbasis teknologi terus berkembang di tahun 2018. Lima start-up di bawah ini adalah sebagian kecil dari perusahaan teknologi yang menemukan cara baru untuk memecahkan beberapa masalah sulit dunia: Shippo Amazon mungkin mendominasi industri e-commerce sekarang, tetapi Shippo memiliki misi memberikan layanan logistik kepada bisnis e-commerce kecil. Didirikan pada tahun 2013 dan berkantor pusat di San Francisco, perusahaan yang memiliki 60-orang staff ini dipimpin oleh Laura Behrens Wu. Pada akhir 2017 mereka menerima funding $ 20 juta dari Bessemer Venture Partners. Shippo berfungsi sebagai platform API untuk bisnis kecil yang mencari alternatif biaya rendah. Layanan Shippo antara lain termasuk: pengiriman internasional, otomatisasi dokumen internasional, mendesain dan mencetak label pengiriman dan pengembalian, tracking pengiriman dan kemudahan dalam pengembalian pesanan. Alasan bisnis e-commerce skala besar seperti Ebay dan Amazon mampu mengirim barang — bahkan secara internasional — dengan biaya lebih rendah adalah karena mereka mengirim barang dengan volume tinggi. Jadi, bagaimana cara Shippo mencapai tujuan utamanya? Shippo dapat memberikan tarif pengiriman yang lebih rendah untuk bisnis kecil, dan bahkan pedagang independen dengan cara konsolidasi barang dan menggunakan platform. Layanan ini merupakan terobosan bagi pedagang kecil. Shippo menangani pengiriman untuk lebih dari 15.000 bisnis setiap bulan. NGINX Pernahkah terpikir bagaimana situs web seperti Netflix berhasil menjaga konten mereka mengalir dengan cepat, aman, dan handal? Disitulah startup teknologi ini hadir. NGINX (diucapkan 'Engine-X') adalah server web teratas yang juga menyediakan solusi pengiriman aplikasi untuk perusahaan dengan volume traffic tinggi. Baik itu Netflix, Starbucks, Dropbox, Airbnb, Instagram, McDonalds, atau Pinterest, mereka adalah klien dari NGINX. Perusahaan ini dimulai sebagai source project pada tahun 2002 ketika Igor Sysoev menulisnya sebagai solusi untuk masalah C10K — istilah yang merujuk pada masalah yang dialami server web dalam menangani volume traffic tinggi. Setelah terus berjalan, pada tahun 2011 didirikan sebagai NGINX, Inc. Saat ini NGINX telah menjadi perusahaan yang dipercaya oleh lebih dari 450 juta situs, menerima $ 41 juta dalam funding, berkantor pusat di San Francisco di mana secara diam-diam telah menjadi salah satu perusahaan telah membantu membentuk internet. Beberapa fungsi NGINX yang telah membantu perusahaan berkembang antara lain: memastikan server web terus berjalan dengan lancar, bekerja dengan arsitektur cloud modern, web serving, load balancing, media streaming, proxy server, menjadi web accelerator atau SSL/TSL terminator. Saat ini NGINX melayani lebih dari 50 persen situs tersibuk dan menjadi kisah sukses dari tech start-ups. GitLab Dengan jumlah total pendanaan sebesar $ 45,6 juta, GitLab cukup unik karena tidak memiliki kantor pusat dan 250 karyawannya bekerja secara jarak jauh di lebih dari 39 negara. Didirikan pada tahun 2011, perusahaan ini sekarang digunakan oleh lebih dari 100.000 organisasi. Proyek open source ini membantu software developers dalam tahap pengembangan dan operasi (DevOps) dari bisnis mereka. Lebih spesifik lagi, fokusnya adalah membantu developer dalam pembuatan coding, review dan deployment (penerapan). Pada tahun 2015 Gitlab bergabung dengan Y Combinator dan pertumbuhan mereka makin cepat. Yang membedakan GitLab adalah misinya, yaitu untuk menjembatani kesenjangan antara konsumen dan kontributor. Model bisnis mereka dibangun atas keyakinan perusahaan bahwa produk digital harus terbuka untuk merupakan kontribusi dari semua orang. Skydio Dimulai oleh tiga orang teman dari MIT, Skydio menjadi top tech start-up karena masukan inovatif mereka tentang cara membantu dronesnavigate. Walaupun dasar untuk bidang ini telah dimulai oleh perusahaan seperti Intel dan Ascending Technologies, Skydio meneruskan ide ini dengan menggunakan "sense and avoid " teknik yang memungkinkan aircraft guidance di luar GPS. Bagaimana Skydio mencapai ini? Startup hanya mengandalkan kamera biasa , bukan kamera dan laser depth & field yang biasa digunakan oleh perusahaan drone lainnya. Pada bulan Februari tahun ini, Skydio mengumumkan drone pertamanya, Skydio R1 seharga US $ 2,499. Mereka mengembangkan Skydio Autonomy Engine — sistem 13-kamera yang dapat melihat ke setiap arah. Produk seperti ini cukup diminati saat ini. Selain itu visi inovatif dari pendirinya telah membuat perusahaan ini mendapatkan pendanaan sebesar $ 56 juta dari investor di Accel dan Andreessen Horowitz. Figure Eight (sebelumnya dikenal sebagai CrowdFlower) Figure Eight yang berpusat di San Francisco memiliki klien terkenal seperti Google, Cisco, Facebook, Twitter dan Mozilla dan telah mengumpulkan $ 58 juta funding. Apa yang menjadikan perusahaan ini tenar? Organisasi ini membahas kebutuhan yang terus berkembang dalam melatih, menguji dan penyempurnaan model machine learning. Hal ini dibutuhkan untuk memastikan bahwa Artificial Intelligence (AI) dapat bekerja di dunia nyata, dan juga menentukan fungsi apa yang perlu ditangani oleh manusia. Figure Eight mendukung beberapa tipe data seperti text, video, image, audio. Selain itu Figure Eight juga menggunakan facial recognition, autonomous vehicle, aerial & satellite imagery, intelligent chat bots, medical image labeling, CRM data enrichment. Didirikan pada tahun 2007, perusahaan telah mengumpulkan investasi dari perusahaan seperti Salesforce Ventures dan Microsoft Ventures. Apa yang membuat perusahaan berbeda adalah bahwa ia mengajarkan fungsi AI pada tingkat yang lebih tinggi. Sumber: The Boss Magazine https://thebossmagazine.com/tech-startups-2018/

July 8, 2018 By:
Beberapa tahun terakhir, perusahaan Asia sudah mulai masuk ke daftar perusahaan teknologi teratas dunia, walaupun posisi teratas masih dikuasai Amerika Serikat. Di tahun 2018 tujuh perusahaan teknologi terbesar berasal dari AS. Menurut daftar Forbes Global 2000 tahun 2018, Apple tetap menjadi pemain top di dunia teknologi, dan juga perusahaan terbesar kedelapan dunia. Selain Apple yang masuk peringkat top dunia lainnya adalah: Microsoft, Alphabet, Intel, IBM, Facebook, dan Oracle berhasil masuk ke 10 besar. Dari Asia yang masuk dalam list adalah Samsung (Korea Selatan). Dua perusahaan Asia lain yang masuk di dalam 10 besar perusahaan teknologi dunia berasal dari negeri Tiongkok yaitu Tencent Holdings dan Hoi Han Precision Industry China. Secara lengkap listnya sebagai berikut: 1. Apple 2. Microsoft 3. Alphabet 4. Intel 5. IBM 6. Facebook 7. Oracle 8. Samsung 9. Tencent Holdings 10. Hoi Han Precision Industry Perusahaan baru di daftar tahun ini adalah Spotify yang go public pada bulan April 2018. Pendatang baru lainnya termasuk China 360 Security Technology Inc., sebelumnya disebut Qihoo 360. Peringkat Global 2000 didasarkan pada skor gabungan dari pengukuran pendapatan, laba, aset, dan nilai pasar yang sama-sama terukur. Daftar 2018 menampilkan perusahaan-perusahaan dari 60 perusahaan yang secara kolektif mencapai $ 39,1 triliun dalam penjualan, $ 3,2 triliun dalam laba, $ 189 triliun dalam aset dan $ 56,8 triliun dalam nilai pasar. Sumber: Forbes https://www.forbes.com/sites/kristinstoller/2018/06/06/worlds-largest-tech-companies-2018-global-2000/#3e9f1e4b4de6

August 16, 2017 By:
Copyright: mindscanner / 123RF Stock Photo. Airbnb, Salesforce and General Electric (GE) consistently tops the list of best companies to work for. They share a common success ingredient – strong employer branding. The process of employer branding refers to promoting your startup as an employer of choice for prospective talents. It serves to fulfill three main functions: attract, recruit, and retain ideal employees. Instead of pumping large amounts of resource into recruitment and retention, did you know that by investing in employer branding in the early stages of your company, you can save up to US$4723 per employee hired? As your startup establishes a foothold in the market, it will scale up rapidly and more talent is needed to sustain the growth. This is where efforts in brand building will pay off. Strong employer branding gives you advantage in attracting talented job seekers over larger companies. Here are some tips to get you started on building your employer brand: Set your Employer Value Proposition (EVP) An Employer Value Proposition (EVP) explains what makes your startup unique and reflects your competitive advantage. It must positively influence prospective and existing employees by giving them a valuable reason to want to work for you. Ideally, the EVP should outline offerings that match an employee’s career goals. To achieve this compatibility, always adopt a bottom-up approach in defining your EVP. Invest in employee engagement and listen to ground sentiments. Find out what makes them tick and what they like about the company. For example, Airbnb, having overtaken Google as the top employer for 2016 in a Glassdoor list, alludes a big part of this achievement to its culture. An employee experience team was set up to inject ‘fun’ into the workplace through organising birthday celebrations and anniversaries. With this people-centric approach towards recruitment and retention, it is no wonder Airbnb is one of the best companies to work for. Weave in your company narrative When making decisions, recruiters tend to trust personal recommendations. The same applies to applicants because hiring for the right fit is a two-way street. Jobseekers refer to employee reviews and form their opinion of your company. Glassdoor is one of the platforms where they go to. Employee testimonials not only ensures authenticity but also humanizes your brand. Salesforce has done a great job in this aspect, using a strong internal referral program. There is a #dreamjob hashtag for employees to show off on social media why they are an employer of choice. Employees post work anecdotes on Salesforce’s Instagram page. Leverage on your digital connections Evident from Salesforce’s success, social media is a powerful medium for employer branding. It is affordable and widely accessible. This is especially useful for startups who are often faced with budget constraints. With a 21 percent increase in active social media users from January 2016, online communities are expanding. That’s a whooping 482 million users! Leveraging on social media’s influence, startups can engage with potential hires easily. General Electric (GE) has done exactly that with its integrated social media strategy. The strategy engages stakeholders ranging from science enthusiasts to data scientists. Using a business case challenge with Kaggle, a crowdsourcing community for data scientists. The competition invites participants to propose innovative solutions for problems faced by GE. Startups may not have the capacity to launch a multi-pronged strategy like GE, but it is never too late to start small. To begin, you can concentrate employer branding efforts on selected platforms. Develop a long-term plan to engage and excite followers regularly with quality content. With a sustained presence, you can then work towards more intimate engagement. It converts followers into brand ambassadors. After following these steps to build your employer brand, it is time to evaluate the effectiveness of your efforts. This can be done by surveying ground sentiments from employees on what they like about the company and looking at the quality of applicants for your job openings. Amid today’s war for talent, it is important to ensure your startup projects the right messages and identity to attract suitable talent. Source: https://www.techinasia.com/startups-strategize-employer-branding-beginning

August 16, 2017 By:
Copyright: rawpixel / 123RF Stock Photo. Posting job openings on an online portal can feel like waiting for fish to bite on a pole. It’s a game of patience and luck. Sure, there are fish swimming down there but catching one is entirely up to chance. With the unrivaled popularity of online job portals, looking for prospective employees has never been easier. These can range from simple bulletin boards to complex matchmaking systems. Regardless, the long wait may be detrimental for your company. While you’re twiddling your thumbs, your company is already in need of a new employee. Contrary to the convenience it offers, merely posting on online job portals is never enough. Even now, nothing still beats contacting prospective employees directly. According to a Stack Overflow survey, only 17.9 percent of developers found their current job through online portals. Most still rely on good old-fashioned networking to get a job. You’re not tapping the best developers and software engineers. Based on LinkedIn’s Global Talent Trends 2015, only 30 percent of the global workforce is actively looking for a job. More specifically, 62.1 percent of the developing community is open to new opportunities but are not active in the job hunt. Meanwhile, only 13.1 percent are active on job portals. Mathematically, you’re tapping only a fraction of your prospective employees. Where can you find the 62.1 percent? While they may still have job portal accounts, they can be found in larger online communities. These range from large professional networks like LinkedIn to developer platforms like GitHub. Software engineers and developers are members of the creative community. Like other creators, they recognize the value of uploading their portfolios online. These provide an excellent way for getting to know their work and contacting them. Conversely, developers aren’t just screen junkies who glue their eyeballs to their monitors all day. They often hang out in public community events like DataScience Singapore. Networking at these events creates interesting opportunities for both you and the developer. Contacting developers directly creates repertoire. Online job portals can reduce applicants to a resume and a profile. Meeting developers or messaging them directly puts a face on the name. It gives you a chance to informally get to know a potential employee without the pressure of an interview environment. You’ll get to know him or her as both a person and a developer. A whopping 85 percent of job openings are still filled through networking, according to Lou Adler, author of The Essential Guide for Hiring and Getting Hired. In fact, 89 percent of applicants accept a job offer faster when the recruiter contacts them directly. The benefits of having a personal conversation with an actual person without a mediator are undisputable. Applicants will have more details about the job. Conversely, an applicant can learn about an opportunity better when they meet someone directly linked to the company. Job portals are often comprehensive when it comes to objective company information. However, there’s only so much that a developer can learn through a job description. Details like compensation and working culture are some things that jobseekers would want to know. Getting to know prospective employees directly mitigates this, even on an informal basis. Through a direct conversation, you can both promote your company and foster a potential applicant’s interest before the recruitment process starts. Based on another Stack Overflow survey, the top criteria that a developer considers in a new job includes: growth opportunities, compensation, culture, and design languages used. These are elements that are impossible to convey in a few paragraphs on a job portal properly. Technology makes job seeking more convenient for employers and applicants. The ease, however, takes away from a more lasting relationship that can be fostered by good, old-fashioned networking. Despite everything, the value of a relationship is not lost on advancing technology. Networking is still an employer’s number one tool in finding new employees. Source: https://www.techinasia.com/networking-hire-developers

August 16, 2017 By:
Photo credit: rawpixel / 123RF Stock Photo. Digitalization is no longer a strategy that can be ignored by either SMEs or big corporations. In our rapidly-advancing digital world, the companies that survive are those that can flexibly adapt to online strategies. Despite how accessible digitalization is, implementation can be difficult. A majority of global companies have already attempted to go digital. However, more than eight out of ten of digitalizing companies fail in the attempt because they don’t adequately know how. On July 27th, at International Enterprise (IE) Singapore’s iAdvisory Forum, decision makers from local companies aspiring to go digital got the chance to meet different professionals in five different tech backgrounds through a “speed-dating” segment, powered by Tech in Asia’s Community Recruiting. Instead of romance, participants were looking for a wealth of wisdom on how to make a switch from traditional to online. As was evident, participants had a flurry of questions and concerns they were more than willing to resolve with the help of tech professionals. Here are just some examples of what companies were troubling with when it comes to digitalization: Customers are switching to mobile Businesses realize that their markets are making the switch to online platforms. However, tapping your market online isn’t as simple as creating your own Facebook page. You’ll need your own ecommerce platform, a fully workable website, and mobile app flexibility, among others. Even businesses who have already established their online presence aren’t immune to the rapid changes of the digital world. The tech industry is always changing. Once one trend peaks, another is hot on its heels. For example, Totobobo is a business that designs and sells respiratory protective masks. Totobobo founder Francis Chu shared his sentiments that most of his customers do prefer the convenience of online mobile shopping. Another example is Saturday Club, an online fashion store that built their ecommerce platform five years ago. Despite already having an established website, Saturday Club now needs to make another switch—to mobile platforms. They realize that their customers are migrating from purchasing with their desktops to their mobile phones. Designing a wonderful website isn’t enough if consumers are redirecting their purchasing power into mobile platforms. Speeding up business to business Consumers aren’t the only beneficiaries with the transition to digital. Even more robust companies in traditional business-to-business transactions are preferring the ease and convenience of digital methods. They realize that traditional methods take too much time relative to the speed of online transactions. A few clicks can beat the hassle of red tape and multiple signatures. For example, a long-established shipping and engineering company can analyze that their old business processes can be dramatically optimized by digitalization. Being deeply ingrained in traditional practices, the company may not know how to go digital at all. Educating on the benefits of digital While a majority of global corporations do recognize the value of digitalization, more traditional brick-and-mortar companies are reluctant to delve into unfamiliar territory, particularly when established methods have already been proven before. Why fix what isn’t broken, they ask. Eunoia is an ecommerce platform that caters to food and beverage businesses. Living in an industry more traditionally known for face-to-face interactions with customers, several F&B businesses don’t see the need to go digital. Eunoia’s biggest challenge is educating businesses that a proper back-end solution can optimize even processes located in the front-end. Going digital shouldn’t have to be daunting. Regardless of which industry you’re in, there is always a way to go digital. Likewise, there is always a tech community ready to help in any way they can. Networking through IE SG’s iAdvisory Forum is just one way to connect with experienced tech professionals. Tech in Asia holds a lot more events that offer prime opportunities to get involved with the tech community. Are you going through digital transformation? Wondering where you can look for the right talent to transform digitally? Are you wondering how to make the shift to digital transformation? Tech in Asia’s Community Recruiting team is a premium recruiting service specializing in hiring tech talent and have helped companies such as Smartly.io with their recruiting needs. Find out about it can help you transform your business by building the right team. Source: https://www.techinasia.com/traditional-businesses-going-digital